DEMO AKBAR 411: PERSPEKTIF POLITIK UMMAT ISLAM


Pbbjatim – Malang – Puncak gelombang aksi demonstrasi masyarakat Indonesia pada jum’at 4 Nopember 2016 kemarin tidak diragukan lagi sebagai aksi damai terbesar yang pernah terjadi di bumi tercinta ini.
Dihadiri oleh lebih dari 2 juta orang, aksi demo berjalan lancar, tertib dan benar2 damai. Tidak ada aksi perusakan fasilitas umum, bahkan sampahpun tidak dibiarkan berserakan. Benar2 tertib dan damai. Kalaupun ada insiden kurang menyenangkan di akhir aksi, masyarakat sudah paham bahwa itu dipicu dan dilakukan oleh pihak-pihak diluar peserta demo yang menyusup untuk menghilangkan kesan tertib dan damai itu.

Terlepas apapun ending dan hasilnya nanti, siapapun akan setuju bahwa proses aksi itu sendiri sangat sukses. Luar biasa!

Tetapi bukan itu yang akan dibahas disini. Saya ingin mengajak seluruh ummat Islam melihat peristiwa itu dari perspektif yang lain. Yakni, kalkulasi potensi kekuatan politik praktis ummat.

Secara statistik populasi ummat Islam di Indonesia sebesar 85% dari total penduduk 250-an juta orang. Jadi masih sekitar 215-an juta ummat muslim di Indonesia. Angka yang sangat besar. Bahkan Indonesia menjadi negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. Luar biasa!

Tetapi sekali lagi, jumlah itu adalah angka statistik.  Angka statistik adalah angka yang statis, angka yang diam. Tidak bisa digunakan untuk aktif dinamis mengubah situasi dan keadaan.

Agar bisa digunakan sebagai alat untuk mengubah kondisi maka angka statistik tersebut harus diubah dan ditransformasi menjadi angka politis terlebih dahulu. Mentransformasi angka statistik yang pasif menjadi angka politik yang aktif secara murah dan konstitusional hanya dapat dilakukan melalui satu2nya jalan, yakni Pemilu.

Tetapi, berkali-kali pemilu ummat Islam belum pernah berhasil mewujudkan kekuatan politik ummat yang superior. Mengapa?

Tentu banyak tesis yang bisa diajukan sebagai jawaban. Tetapi yang pasti, ummat sangat sulit bersatu dan berpadu dalam politik praktis.

Selain terbelah dalam berbagai partai Islam, juga kesadaran yang rendah akan pentingnya menghimpun kekuatan politik ummat dalam partai politik islam. Sehingga mereka berserakan di banyak partai bahkan dalam partai yang nyata2 anti kekuatan politik ummat Islam.

Lebih jauh dari itu, dari pemilu ke pemilu selalu saja ada seruan masif untuk tidak memilih alias golput. Atau bersikap netral. Menjaga jarak kepada setiap parpol, baik parpol islam maupun parpol non-Islam.

Seruan golput dan netral itu tidak saja dilakukan oleh aktifis2 LSM yang memang sengaja dibuat untuk membonsai politik ummat, tetapi bahkan juga dilakukan oleh banyak tokoh dan aktifis Islam sendiri yang seharusnya mereka mengarahkan ummat agar menggunakan hak dan kewajiban politiknya, karena mereka adalah para kaum cerdik pandai yg menjadi panutan ummat.

Rentetan berikutnya adalah diharamkannya berbicara politik di masjid2, mushalla dan di tempat2 pendidikan lainnya. Sesuatu yang seharusnya tak boleh terjadi. Bahkan berikutnya larangan itu dilakukan sendiri oleh para takmir. Sementara di tempat2 ibadah ummat lain larangan itu tidak pernah ada. Minimal, tidak ada yang kontrol.

Demikian masifnya seruan golput dan netral itu sampai2 di banyak pilkada golput menjadi pemenang.

Situasi inilah yg dimanfaatkan oleh pihak2 yang ingin menguasai Indonesia dan meminggirkan peran pribumi dan ummat Islam. Maka naiklah non-muslim menjadi pemimpin di banyak daerah yang berpenduduk mayoritas muslim.

Dan Ahok adalah satu contoh yang sempurna tentang lemahnya politik ummat Islam dan ambisi non-pribumi/non-islam untuk berkuasa.

Barulah kemudian situasi dan kenyataan ini membuat kaget sekaget2nya ummat Islam. Tak terkecuali yang sebelumnya lantang meneriakkan golput dan netral. Tapi nasi sudah menjadi bubur! Mari kita nikmati, terkadang bubur juga mengenyangkan…

Aksi demo akbar 411 kemarin intinya gusur Ahok karena dia menistakan Al Qur-an dan menghina ulama’ sebagai simbol ummat. Dan sebenarnya, karena dia juga gubernur non-aktif dan calon gubernur DKI 2017.

Kalau kita pikir hebat benar Ahok ini. Lebih dari 2 juta orang yang datang berkumpul di DKI mewakili ratusan juta lainnya yang tidak sempat hadir, belum terlihat tanda2 keberhasilan menggusur orang ini. Hebat sekali!

Mari kita hitung. Kasar saja. Kita asumsikan setiap orang yang ikut demo 411 tersebut rata2  mengeluarkan kocek sebesar 1 juta rupiah. Maka total dana yang dikeluarkan oleh 2 juta peserta demo adalah 2 trilliun rupiah. Luar biasa besar, bukan? Ini belum dana yang dikeluarkan pada demo2 sebelumnya di berbagai tempat.

Dana ummat yg lebih dari 2T tersebut kalau digunakan dalam Pemilu oleh PBB untuk sosialisasi, konsultasi dan operasional misalnya, akan bisa menjadi 300-an kursi DPR RI dan ribuan kursi DPRD Prov/Kab/Kota di Indonesia.

Itu sudah cukup untuk menghadang setiap anasir yang ditengarai membahayakan ummat dan negara. Apalagi cuma seorang Ahok!

Semoga aksi 411 ini benar2 menjadi momen turunnya hidayah Allah bagi ummat Islam dan bangsa indonesia. Hidayah yang akan memberi kesadaran akal pikiran dan hati serta menuntun kepada mewujudnya persatuan dalam membangun kekuatan politik ummat.

Mari berhimpun membangun kekuatan politik ummat. Partai Bulan Bintang berkomitmen untuk mengawal kepentingan ummat dan bangsa indonesia. (AQJ/PBB-EJ)

Malang, 05 Nopember 2016

By HM. Masduki Thaha*)

*) Ketua DPW PBB Jatim

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s