KITA (bukan) KELEDAI ?


PBBJatim – Malang – Ada pepatah yang umurnya tentu jauh lebih tua dari saya: “Hanya keledai yang jatuh berulang oleh lubang yang sama”. Karena pepatah tua, tentu saja sudah tervalidasi keakuratannya dalam rentang zaman yang panjang. Dan karenanya terpaksa saya mempercayainya.
Tentu semua sudah faham maksudnya. Keledai adalah binatang yg dianggap paling bodoh. Mengapa? Karena dia tidak pandai mengambil pelajaran dari pengalaman buruknya. Seringkali dia terperosok dan jatuh tersungkur pada lubang yang kemarin telah membuatnya terperosok dan jatuh pula. Dan, terus berulang.

Bulan Bintang dan Lubang

Bulan Bintang diambil menjadi nama dari sebuah partai politik yg didirikan pada 1998 oleh para tokoh yang cerdas dan berisikan kaum cerdik pandai. Dan konon menerusakan gagasan para pejuang tangguh dimasa silam. Maka, Partai Bulan Bintang sejatinya adalah partai politik yang dikendalikan oleh orang2 hebat, cerdas, tangguh, dan baik. Bukan kelas manusia biasa, apalagi kelas keledai. Jelas bukan. Pasti sudah tahu apa yang menjadi visi dan tujuan mereka berhimpun dalam parpol, strategi-taktik dan program aksi apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut.

Tetapi partai para cerdik pandai ini telah terperosok dan jatuh berkali2 dalam lubang kegagalan, yang seolah2 telah menjadi bagian dari perjalanan politik partai ini. Dan sayangnya, lubang2 pengganjal itu adalah lubang yang sama.

Lubang2 Jebakan

Pada 1999, Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra (YIM) yang kala itu dalam posisi sebagai Ketua Umum Partai Bulan Bintang telah resmi menjadi calon presiden. Karena rayuan (“paksaan” ?) para politisi seniornya maka beliau mengundurkan diri dan melepas peluang emas meraih tujuan puncak perjuangan politik partai. Bujuk rayu yang terdengar baik belum tentu berbuah manis. Dan hanya niat baik saja tidak selalu sampai kepada tujuan.

Beberapa waktu kemudian, partai ini dilanda konflik dan perpecahan para tokoh sentralnya.Perpecahan para tokoh akan selalu diikuti oleh para pengikutnya. Padahal semua tahu, perpecahan selalu berakibat melemahkan.

Setelah itu, muktamar yang diselenggarakan secara rutin 5 tahunan, selain menjadi forum musyawarah partai, hampir selalu menjadi ajang perpecahan. Dan tentu saja pelemahan. Dampaknya masih terasa sampai sekarang.

Electoral Threshold dan Parliamentary Threshold adalah lubang jebakan perikutnya. Lubang jebakan inilah yang membuat partai ini terjungkal dan terlempar dari Senayan pada 2009 dan 2014. Bahkan nyaris tidak bisa mengikuti pertempuran dalam Pemilu 2014 setelah diganjal oleh lubang jebakan Verifikasi Faktual oleh penyelenggara pemilu.

Verfak memang hanya nyaris menjegal langkah partai pada 2014. Tetapi lubang jebakan verfak ini akan selalu menghadang pada setiap pemilu.

Dalam proses pilgub DKI yang saat ini sedang berlangsung, partai ini kembali dihadang lubang jebakan. Sang Ketum, YIM, yg berbulan2 telah bekerja keras dan berhasil menjadikan dirinya sebagai sosok yang diakui oleh semua kalangan dan lembaga survei sebagai figur yang dapat memenangkan pertarungan melawan kandidat kuat petahana yang didorong oleh kekuatan super kuat international, akhirnya tetap juga terpental pada babak akhir bursa pencalonan. Janji manis para pimpinan partai tak terbukti. Janji manis kembali telah menjadi lubang jebakan.

Lubang Alat Menjegal

Perhatikanlah lubang2 jebakan itu. Ia bukan lubang kebetulan. Lubang itu memang telah didesain dengan rapi untuk menjegal. Menjegal PBB, menjegal Yim!

Lubang jebakan akan terus dihadirkan disetiap perjalanan pbb dan ketumnya.

Kalau kita perhatikan lubang jebakan itu polanya sama:
1. Rayuan, melalui berbagai pintu. Pintu kawan atau pintu lawan.
2. Mengapa kita mudah dirayu/dibujuk?
Karena kita lemah dalam banyak hal.
Mengapa lemah? Karena mudah berpecah dan enggan melakukan penguatan organisasi secara serius dan masif. Kelemahan terpelihara terus menerus tanpa ada jalan keluar.

Kelemahan partai jelas terlihat dalam bangunan infrastruktur partai hingga kini. Kalau diukur dangan ukuran yang semestinya, partai ini memang belum layak maju dalam pertempuran pemilu 2019 dengan mengusung beban lahir batin yang sangat berat.

Tampaknya, infrastruktur partai sangat parah dan belum ada tanda2 adanya upaya memperbaikinya secara serius dan konkrit.

DPP tampaknya masih asyik dan sulit keluar dari problem internalnya sendiri. Mayoritas DPW tidak memiliki kemampuan yang memadai untuk melakukan perbaikan secara mandiri, baik untuk dirinya apalagi untuk organ dibawahnya. Kondisi stagnan.

Semestinya semua sudah sama2 paham dan mengerti bahwa modal utama mengikuti pertempuran pemilu dalam perang masa kini adalah kesiapan infrastruktur partai. Tidak mungkin berharap kepada pihak eksternal selama faktor internal ini belum beres. Pasti hanya akan dibuat permainan dalam lubang2 jebakan yang telah disiapkan.

Urgensi Verifikasi 2017

Terakhir lubang jebakan itu menjatuhkan kita pada proses pencalonan dalam pilgub DKI. Lalu apa berikutnya?

Saya yakin para musuh telah menyiapkan jebakan maut berikutnya. Tujuan tetap sama: YIM harus dijegal dan jangan sampai masuk dalam arena pertempuran pilpres 2019. Bagaimana caranya?

Caranya pasti berbeda dengan cara yang dipakai mengganjalnya dalam pilgub DKI: menyingkirkan dari proses pencalonan oleh koalisi partai.

Dalam pemilu 2019 nanti tidak mungkin lagi menghadang YIM dalam proses pendaftaran Calon Presiden. Karena UU telah menetapkan setiap partai peserta pemilu dapat mengajukan Capres dan Caleg secara langsung dan sekaligus.

Jadi jelas, YIM pasti akan resmi terdaftar sebagai Capres pada Pemilu 2019 jika PBB lolos semua tahapan verifikasi sebagai Partai Politik Peserta Pemilu 2019.

Disitulah peluang terjadinya lubang jebakan lagi. Kekuatan lawan pasti akan dikerahkan untuk menjegal PBB dalam proses verifikasi 2017 agar tidak lolos menjadi partai politik peserta pemilu 2019. Dan tentu saja akan gagal mengusung sang Ketum, YIM.

Itulah urgensi verifikasi 2017 yang (semestinya) sudah dilakukan persiapan sejak saat ini.

Menuju 2019 Tanpa Lubang Jebakan

Boleh dikata, kalau memang sungguh2 berniat melakukan peperangan politik melalui pertempuran pemilu, inilah saatnya. Dan syarat utamanya adalah Lolos VERIFIKASI dan membangun Infrastruktur Partai yang Kuat sampai ke tingkat yang paling bawah. Jalan lain sepertinya tidak ada, kalaupun ada hanya sebagai penguat saja.

Maka, seyogyanya semua potensi partai, pimpinan, para tokoh dan kader benar2 difokuskan pada 2 hal itu:
1. Membangun infrastruktur partai sampai ke tingkat akar.
2. Pastikan lolos semua tahapan verifikasi 2017 yg akan dilakukan oleh penyelenggara pemilu.

Kalau 2 hal ini bisa ditangani dan disiapkan dengan serius dan sungguh2 InsyaAllaah perjuangan politik dapat melangkah menuju medan perang 2019 tanpa lubang jebakan lagi.

Yang perlu dipahami kemudian adalah bahwa tugas berat tersebut adalah tugas bersama seluruh elemen partai dibawah komando Dewan Pimpinan Pusat.

Kita (bukan) Keledai, kan?

Maka,
Hentikan pertikaian, karena kita bukan keledai…
Fokus bangun infrastruktur partai, karena kita bukan keledai…
Bangun kebersamaan dan kerja sama, karena kita bukan keledai…
Lakukan segala persiapan untuk memastikan lolos verifikasi 2017, karena kita bukan keledai….

Kalau tidak?

*) Bukan renungan, krn memang tidak untuk sekedar direnungkan saja. Masa verifikasi sudah di depan mata.

Malang, 06 Oktober 2016.
HM. Masduki Thaha
Ka. DPW Jawa Timur

(AQJ/PBB-EJ)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s